Modernisasi Pesantren Ummul Quro Al-Islami dan Neoplatonism Ibnu Miskawaih

Modernisasi Pesantren Ummul Quro Al-Islami dan Neoplatonism Ibnu Miskawaih

Keberhasilan memenangkan nominasi Pesantren Modern Inspirasi 2017 membuat pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami kembali melambungkan namanya diantara deretan nama pesantren modern ternama di tanah air. Penganugerahaan tingkat nasional tersebut diselenggarakan Islam Nusantara Center (INC) melalui laman resminya jaringansantri.com. Dilakukan secara voting terbuka Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Leuwiliang Bogor meraih dukungan 544.554 suara sebagai pemenang, disusul pesantren As Shidiqiyah Jakarta (520.689), dan pesantren Dar El Qolam Gintung Tangerang (8.541).

Kemenangan itu disambut bahagia sekaligus bangga oleh Kyai Helmy Abdul Mubin, Lc., Pendiri dan Pengasuh Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami maupun segenap keluarga, pengurus dan masyarakat pesantren PM UQI. Tak terkecuali segenap rekan IKAPMI (Ikatan Keluarga Besar Alumni Pondok Pesantren Ummul Quro Al-Islami) baik yang di dalam negeri maupun luar negeri.

Euforia kemenangan itu tentunya tidak juga memuaskan seluruh kalangan masyarakat karena diantaranya berasumsi bahwa indikator kemenangan itu hanya dilakukan terbuka secara voting daring. Namun demikian rupanya tidak menjadi soal bekepanjangan bagi masyarakat yang mengenal betul sepak terjang PM UQI sebagai pesantren modern yang mulai tumbuh di ujung Bogor Barat, Leuwiliang.

Injection Motivation Kyai Helmy
Kyai Helmy dalam mengisi sambutan memperkenalkan sejarah berdirinya pesantren Ummul Quro Al-Islami juga misi yang tak lepas dari sepotong cerita sederhana namun bernilai sekali. Tentang beberapa orang yang mengaku datang dari kedutaan besar Australia berkunjung ke sebuah pesantren di Indonesia pada tahun 1990-an. Mereka membawa misi yaitu mencari guru agama untuk kemudian mengajarkan Islam di komunitas muslim Australia. Sayangnya mereka tidak pulang dengan tangan hampa karena sejumlah asatidz kurang menguasai bahasa Inggris.

“Tidak selamanya Islam diajarkan dengan bahasa Arab. Islam harus juga disampaikan dengan bahasa dunia (bahasa Inggris).” tutur Kyai Helmy dalam sebuah video dokumenter pesantren.

Tak pernah bosan Kyai Helmy sering sekali mengingatkan para santri dan guru sekalian untuk selalu mempraktekkan bahasa Arab dan Inggris dalam kegiatan pembelajaran di kelas maupun percakapan sehari-hari. Hal itu disampaikan nyari setiap kali Kyai Helmy berkesempatan berbicara di podium baik ketika sambutan apel perdana, rapat bulanan guru, kuliah Ashar bulanan, dan kesempatan lainnya.

Revolusi Think Tank Kyai Helmy
Misi yang sebelumnya digambarkan seperti benih itu tidak hanya dibiarkan tumbuh sendiri. Kehadirannya seakan membuka paradigma baru dalam dunia Pendidikan dan dakwah bagi Kyai Helmy selaku pendiri pesantren Ummul Quro Al-Islami. Tindak lanjutnya Kyai Helmy gesit bergeliat menggandeng sejumlah guru berpengalaman dari sejumlah pesantren modern ternama diantaranya mulai dari Gontor Ponorogo, Al-Amin Madura, Daarurahman Jakarta, sejumlah pesantren salafiyah di Jawa Timur dan lain sebagainya.

Tidak hanya menggunakan bahasa Arab-Inggris sebagai bahasa percakapan sehari-hari, kedua bahasa tersebut menjadi bahasa pengantar dalam pembelajaran di dalam kelas baik pada buku ajar maupun jalannya proses kegiatan belajar mengajar. Seperti bahasa Arab untuk bidang ilmu Tauhid, Ushul Fiqih, Nahwu Shorof, Akhlaq, Tarbiyah. Adapun bahasa Inggris untuk bidang Sejarah Islam, Al-Qur’an dan Hadist.

Tak kurang dari kesemuanya itu kurikulum Pendidikan nasional Kyai Helmy juga padukan dengan menggandeng Kementerian Agama. Namun yang menarik meskipun Kyai Helmy berlatar belakang pesantren Gontor dan menempuh study di Madinah University, pesantren Ummul Quro Al-Islami ia rumuskan dengan dasar kuat akidah Sunni, berteologi Asy’ariyah dan bermazhab fikih Syafi’iyah. Maka tak mengherankan kurikulum pesantren salafiyah dalam bentuk pengajaran kitab kuning juga dipadukan. Dalam sejumlah kegiatan ubudiyah Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami kita akan disuguhkan amalan ibadah yang biasa dilakukan jama’ah Ahlusunnah wal jama’ah an-nahdiyyah.

Langkah taktis berikutnya yang dilakukan Kyai Helmy sekitar tahun 2011-an yaitu dengan menempatkan putrinya Ustadzah Nuril Izzah sebagai ketua Majelis Pembimbing Organisasi (MPO) bagi pengurus organisasi santri putri dan menantu keduanya, Ustadz Syamsul Rizal sebagai ketua MPO bagi pengurus santri putra. Diakui bahwa ketua MPO merupakan posisi yang strategis nan krusial di PM UQI karena bertanggungjawab penuh dalam mengawal berjalannya sistem, program dan segala kegiatan warga pesantren dengan maksimal.

Walhasil tak kurang dari dua puluh tahun Ummul Quro Al-Islami sebagai pesantren modern berdiri sejumlah lulusan dari angkatan pertama sampai kesekian belas telah mewarnai dunia Pendidikan Indonesia baik yang bersifat non formal maupun formal. Sejumlah perguruan tinggi Negeri berhasil ditembus, termasuk study dengan beasiswa atau mandiri di sejumlah negara timur tengah juga bisa dijangkau oleh para alumni yang tergabung resmi dengan nama IKAPMI (Ikatan Keluarga Besar dan Alumni Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami).

Dari sejumlah keberhasilan lompatan-lompatan tersebut sejumlah alumni mulai berjejaring baik sesama rekan satu almamater lintas lembaga dan negara juga meluaskan jaringan melalui organisasi atau instansi baik swasta maupun pemerintahan yang mereka ikuti. Sebagai sesama alumni pesantren dengan nama IKAPMI kesemuanya seakan bersepakat bahwa peran kebermanfaatan diantara muaranya itu kembali ke almamater sendiri, Ummul Quro Al-Islami.

Hasilnya capaian PM UQI mengalami peningkatan. Lulusan pesantren modern Ummul Quro bisa melanjutkan study di luar negeri tidak hanya untuk wilayah Timur Tengah Asia melainkan juga Australia dan Eropa hingga Amerika. Terlebih study yang ditempuh tidak hanya setingkat sarjana melainkan juga pascasarjana baik magister maupun doktoral.

Modernisasi Tata Kelola
Tak kurang dari 4000 jumlah santri dan puluhan Angkatan alumni yang telah diluluskan pengurus pesantren Ummul Quro Al-Islami mulai begerak melakukan evaluasi khususnya di bidang tata kelola pesantren modern. Pengangkatan Ustadz Saiful Falah selaku Sekretaris pesantren oleh Kyai Helmy bisa dikatakan sebagai modernisasi tata kelola dimulai dan dikebut. Dengan posisi tersebut sejumlah kebijakan dilakukan oleh Ustadz Saiful Falah tentu dengan regulasi bahwa setiap pengajuan harus berdasarkan persetujuan Kyai Helmy terlebih dahulu.

UQI Smart System sebagai sistem informasi yang mengintegrasikan seluruh data akademik santri UQI terpadu (all-in-one) berbasis komputer menjadi project yang Ustadz Falah tawarkan dan mendapat sambutan baik dari pengurus pesantren, termasuk Kyai Helmy. Tentu Ustadz Falah tidak sendiri, penguasaan IT diserahkan sepenuhnya kepada Indra Budiman dan Ustadz Titip Barkah yang keduanya merupakan sesama alumni PM UQI Angkatan 6. Pengkoordinasian data di sektor adminstrasi kelembagaan sekolah di tingkat madrasah Tsanawiyah bekerjasama dengan Ustadz Solihin GP dan Ustadz Ali Hidayat untuk tingkat madrasah Aliyah.

Tak disangka jika kemudian modernisasi tata kelola yang telah diusung dan dikawal secara baik serta professional semakin menampakkan keberhasilannya. Pencapaian akreditasi A pun diraih secara berturut-turut baik di tingkat madrasah Tsanawiyah maupun Aliyah. Tentu harus diakui pula bahwa kiprah kepemimpinan para Kepala Madrasah terhadap pesantren sejauh ini juga turut berkontribusi tak kalah besar sekalipun masa periodesasi lima tahun sekali berlangsung.

Titik Temu Cita-Cita Kyai Helmy
Tidak berhenti melahirkan lulusan pesantren yang mampu menembus perguruan tinggi negeri atau study di luar negeri, pesantren Ummul Quro Al-Islami juga melebarkan sayap kelembagaan Pendidikan dengan jenis lainnya. Sehubungan dengan itu Kyai Helmy pernah berwacana mendirikan pesantren Ummul Quro Al-Islami 2 namun karena pertimbangan satu dan lain hal akhirnya urung dilakukan. Meski demikian Kyai yang berasal dari Sumenep Madura ini memang dikenal sebagai figur seorang Kyai yang visioner, teguh pendirian dan berdikari. Ada satu keinginan besar Kyai Helmy yang sering diutarakan kepada dewan guru, para santri dan di sejumlah kesempatan mengisi tausiyah.

“Saya ingin membangun STIKES (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan) atau fakultas kedokteran. Tahu kenapa? Karena saya ingin kita punya banyak dokter dan perawat dari kalangan orang Islam.” ungkap Kyai Helmy seraya tersenyum.

Dalam perjalanannya cita-cita Kyai Helmy tersebut di kalangan alumni dan guru internal pesantren sendiri tak banyak yang membicarakannya selain doa dan keyakinan agar terwujud sebagai bentuk dukungan. Namun demikian secara kompak dan bertahap anggota kepengurusan Yayasan Ummul Quro Al-Islami yang tak lain merupakan anak dan menantu Kyai Helmy mulai menyelesaikan study akademiknya baik di tingkat sarjana, magister sampai doktoral. Diantara yang menjadi penggerak untuk melanjutkan studi pascasarjana tak lain adalah Ustadz Saiful Falah yang berhasil menempuh studi doktoral di Universitas Ibnu Khaldun Bogor pada tahun 2016.

Pelan-pelan namun penuh dengan kepercayaan diri sebagai seorang doktor manajemen Pendidikan Islam, Dr. Saiful Falah pada tahun 2017 mulai merintis lembaga sekolah tinggi Islam dengan menyematkan nama Ummul Quro Al-Islami yang lokasinya bersebelahan dengan pesantren. Sejumlah guru sesama alumni PM UQI yang berlatarpendidikan magister atau lulusan luar negeri pun digandeng Dr. Saiful Falah untuk menjadi tenaga pengajar di institut tersebut.

Tak ada yang menyangka bahwa tanah yang rencananya akan dibangun STIKES malah beralih menjadi bangunan demi bangunan sekolah tinggi yang secara resmi diberi nama IUQI (Institut Ummul Quro Al-Islami). Seperti juga akhirnya dukungan penuh Kyai Helmy berikan dalam proses berdirinya IUQI lantaran Dr. Saiful Falah dinilai cerdas membaca peluang. Diantara hemat penulis terkait peluang tersebut yaitu pertama, belum ada di tingkat kecamatan Leuwiliang sebuah perguruan tinggi setingkat institut. Pun ada masih setingkat sekolah tinggi dengan hanya terdiri dari satu fakultas tarbiyah atau Pendidikan Islam. Kedua, Leuwiliang merupakan titik strategis Bogor wilayah Barat karena menghubungkan tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. Ketiga, kepercayaan masyarakat di tingkat kecamatan, kabupaten dan kota Bogor terhadap perkembangan Pesantren Modern UQI tidak diragukan lagi baik secara SDM maupun infrastrukturnya.

Pada tahun ke-5 berdiri IUQI saat ini memiliki lebih dari 1000 mahasiswa dengan tiga fakultas diantaranya fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, fakultas Ekonomi Syariah dan fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam. Karena masih dibawah naungan Yayasan Ummul Quro Al-Islami Dr. Saiful Falah lebih leluasa menghubungkan jejaring diantaranya dengan alumni PM UQI (IKAPMI) baik di tingkat nasional maupun internasional dalam mengibarkan bendera Institut Ummul Quro Al-Islami dari Leuwiliang, kabupaten Bogor Barat.

Bagaimana dengan STIKES atau fakultas kedokteran sebagaimana apa yang masih sampai saat ini dicita-citakan Kyai Helmy? Tentu disinilah perjuangan pak rektor IUQI, Dr. Saiful Falah menemui titik temu penghubungnya dengan Kyai Helmy. Karena bukan tidak mungkin IUQI membuka fakultas kedokteran dan mewujudkan keinginan Kyai Helmy melahirkan banyak tenaga medis dari kalangan orang Islam.

Modernisasi dengan Neoplatonism Ibnu Miskawaih
Wacana Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami 2 yang pernah Kyai Helmy sampaikan dahulu mungkin belum menemui titik terang. Namun Dr. Saiful Falah tak kalah bergerak taktis dengan mendirikan Pesantren Tahfidz Ummul Quro Al-Islami yang berlokasi di kecamatan Cibungbulang, kabupaten Bogor. Terlebih di tahun ajaran baru ini Dr. Saiful Falah juga membuka lembaga Pendidikan Islam di tingkat dasar dengan nama SDI (Sekolah Dasar Islam) Ibnu Maskawaih. Kedua lembaga Pendidikan tersebut tidak dibawah naungan Yayasan Ummul Quro Al-Islami melainkan milik pribadi pak rektor.

Namun demikian semua orang tahu bahwa pak rektor IUQI, Dr. Saiful Falah merupakan suami dari putri pertama Kyai Helmy, Ustadzah Nuril Izzah. Menghindari zona nyaman Dr. Saiful Falah berani unjuk gigi dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk turut mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mertuanya, Kyai Helmy yang tak lain merupakan guru besar rekan IKAPMI dan para santri lainnya. Pendirian lembaga Pendidikan Dasar Islam, Pesantren Tahfidz dan Institut Islam seolah menjadi sinyal yang Dr. Saiful Falah nyalakan sebagai tanda semangat berkhidmat dan berkemajuan. Khidmat dalam bentuk mewujudkan serta melestarikan ajaran dan visi Kyai Helmy sedangkan berkemajuan dengan memodernisasi sistem lembaga Pendidikan dalam menjawab tantangan zaman.

Akhirnya kita yang mengenal tokoh filusuf Islam yang begitu terkenal karena konsentrasinya pada tataran filsafat etika seperti Imam Ghazali tak mengherankan jika Dr. Saiful Falah menjadikan namanya sebagai nama Sekolah Dasar Islam yang didirikannya yaitu Ibnu Maskawaih. Dengan tagline “Sekolah Manusia Bahagia” Dr. Saiful Falah sebetulnya menyisipkan esensi ajaran Neoplatonism Ibnu Maskawaih bahwa kelestarian kesehatan moral itu berdasarkan pandangan budidaya karakter. Maka keterlibatan jiwa memang harus dilakukan dalam suatu harmoni agar terciptanya kebahagiaan.

84 Views
The following two tabs change content below.
Ocid Quro
Juru Kompor di AU-AH.COM | Suka asal bepergian dengan sepeda atau baca buku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Balik!