Hidup Bertaman Kesadaran

Hidup Bertaman Kesadaran

AU-AH.com – Seorang petani tua menjadi pembicaraan banyak orang sekampung. Pasalnya ia menanam pohon Zaitun yang jika berbuah pun tentu tidak akan ia rasakan hasil panennya. Batas usia tidak ada yang tahu tapi secara fisik, petani tua jelas sudah terlihat kepayahan.

Hingga di suatu kesempatan seorang raja di daerahnya yang sedang melakukan kunjungan ke pelosok kampung bertemu dengan petani tua. Tentu sang raja juga berpikir dan bertanya mengenai alasan apa yang dikerjakan petani tua.

Wahai Kisra, orang-orang sebelum kita telah menanam berbagai macam tanam-tanaman dan buah-buahan, dan sekarang kita yang menikmatinya. Jadi kalau kita menanam berbagai macam tanaman dan buah-buahan sekarang, tujuannya agar bisa dinikamati oleh anak cucu kita nantinya.

Petani Tua

Sontak sang raja terkaget mendengar pernyataan itu. Bukan seorang penasehat raja atau filsuf, ia hanya seorang petani tua tapi pandangannya demikian visioner nan filosofis. Sebagai apresiasi sang raja Kisra membagikan hadiah untuknya.

Entah kenapa cerita itu demikian melekat dalam ingatan saya, bahkan sepertinya sampai kapanpun. Padahal waktu itu saya duduk di kelas Roobi’ atau empat (setingkat kelas 10 SMA) di sebuah pesantren besar di Bogor Barat pada tahun 2008. Lanskap sawah di sebelah kelas saya seakan ikut serta menguatkan setting dan tokoh cerita yang dituturkan berbahasa arab pada mata pelajaran al-Muthola’ah al-Hadiitsah itu.

Ajaran Menanam

Tak banyak lembaga pendidikan yang memuat pelajaran berisi cerita-cerita inspiratif seperti itu. Kalaupun ada biasanya inisiatif guru mata pelajaran sebagai metode pembelajaran atau momen kosong pelajaran. Tapi di dunia pesantren “ajaran menanam” menjadi sabda yang tersurat maupun tersirat selama masa menimba ilmu dan mengabdi di pesantren.

Sudah menjadi sistem pendidikan di pesantren, bahwa kami ditanamkan kesadaran untuk belajar menempa diri menjadi hamba Allah yang Ihsan. Ibadah amaliah yang sunnah menjadi wajib, yang wajib bisa demikian teramat wajib. Merasa diawasi Allah langsung itu dibuat dengan sejumlah aturan dan penegakan disiplin oleh pengurus pesantren.

Saya tidak menafikan bahwa lembaga pendidikan non pesantren juga tak jauh berbeda memiliki visi menanam. Namun bagi para insan pesantren teramat sering kata-kata persuasif seperti berbuat baik, beramal, taat dan berbakti, bermanfaat untuk orang lain, pengabdian terhadap umat, adalah pesan-pesan substansif sebagai ajaran menanam disemai oleh para Kyai dan asatidz (guru-guru).

Anomali Investasi Pendidikan

Jika warisan itu tanaman maka berinvestasi bisa diartikan menanam. Tentu itu hanya metafora. Tapi marilah kita melihat masa kini, dimana global warming semakin mengalami peningkatan. Ajakan menanam pohon, menjaga keselamatan hutan, dan perkebunan banyak disuarakan oleh sekelompok aktivis pecinta alam dan lingkungan.

Namun di lain sisi, para petani yang memang mencari nafkah dengan bercocok tanam tak banyak yang bisa mewariskan jalan hidup itu kepada putra-putrinya. Bukan warisan berupa sawah, kebun, ladang atau ternak melainkan uang setiap hasil penjualan panen senantiasa diberikan untuk biaya pendidikan anaknya.

“Minimal bisa bersekolah tinggi, tidak seperti bapak yang sekolah dasar saja tidak tamat.” Demikian alasan klise kepala keluarga petani yang hampir banyak terjadi di pelosok tanah air.

Apakah investasi pendidikan yang dilakukan para orangtua baik yang berprofesi sebagai petani, buruh, pengusaha, bahkan pegawai pemerintah sebagai warisan kelak menjamin keberhasilan putra-putrinya? Tentu tak ada yang bisa menjamin. Karena memang semua sepakat akan satu hal, “Pada akhirnya nasib orang berbeda-beda. Itu hanya ikhtiar kita semata, kepada Allah semua takdir dikembalikan.” Demikianlah yang sering dituturkan oleh umat Islam berteologi Asy’ariyah.

Kesadaran Berinvestasi

Tapi selain ikhtiar yang dilakukan oleh orangtua sebagai investor dan si anak sebagai objeknya, ada bagian yang tak boleh luput dari kesemua itu. Proses berinvestasi atau menanam dalam bidang apapun, ya bisnis, pendidikan, amal kebaikan dan lain-lain semua berangkat dari benih tanaman bernama kesadaran.

Bahwa seorang petani tua yang menyadari jatah hidupnya tak lama lagi, bergegas dengan penuh semangat ia bercocok tanam sebagai visi hidup terakhir. Yang juga bisa terjadi pada seorang pemuda sehat akal, jiwa dan badan, bahwa kesadaran berinvestasi (menanam) tidak mesti menunggu lama seperti petani tua.

Benih kesadaran wajib dimiliki oleh siapapun kita, pun ia bisa ditarik kesana-sini sebagai propaganda untuk kepentingan individu maupun golongan tertentu. Namun dalam konteks ini yang dimaksud kesadaran itu menyadari bahwa untuk menciptakan visi hidup kita harus mengenal dan menguatkan pondasi kesadaran diri terlebih dahulu.

Sudah semestinya benih kesadaran kita semai di awal karena seiring berjalannya waktu ia akan tumbuh menjelma menjadi akar. Akar kesadaranlah yang kelak mengokohkan berdirinya pohon, karena kelak darinya air dan zat-zat hara diserap dan dialirkan ke seluruh bagian pohon, tumbuh dan berbuah.

Investasi Tanpa Pamrih

Sejalan dengan itu saya jadi teringat Maulana Jalaluddin Rumi pernah ditanya muridnya soal siapakah yang disebut Ulama atau Hakiim (bijak bestari). Penyair sufi besar itu mengatakan bahwa Ulama atau seorang bijak  bestari bagaikan pohon yang ditanam di tanah yang subur.

Tanah itu menjadikan pohon tersebut berdiri kokoh dan kuat dengan daun-daun yang menghijau dan rimbun. Tak lama kemudian ia menumbuhkan kuncup bunga, mekar dan menghasilkan buah yang lebat. Meski sepertinya ialah yang menghasilkan bunga dan buah-buahan itu, tetapi ia sendiri tak mengambilnya. Buah-buah itu untuk orang lain atau diambil mereka.

Rumi melanjutkan, kalau saja kita bisa memahami bahasa pohon itu, ia sesungguhnya berkata,

تَعَلَّمْنَا اَنْ نُعْطِيَ وَلَا تَعَلَّمْنَا اَنْ نَأْخُذَ

Kami diajarkan untuk memberi dan tidak belajar untuk mengambil/meminta.

Jalaludin Rumi

Benih kesadaran untuk menjadi pohon, kelak berbuah atau tidak bukan soal. Yang terpenting ia tumbuh dengan visi menanam dan memberi. Toh sejatinya benih yang tumbuh sejatinya sudah membuahkan akar, batang, dahan dan daun, bahkan bunga dan buah. Yang masing-masing kesemuanya itu bisa memberi terhadap semua jenis makhluk hidup, termasuk bumi itu sendiri.

Demikianlah benih kesadaran digambarkan. Dalam realitasnya kesadaran bahwa kesempatan atau peluang itu selalu ada, bisa dengan mengamati atau menciptakan, bukan menunggu. Kesadaran bahwa hasil tidak demikian mutlak instan didapat, butuh  proses yang dalam perjalanannya tentu bisa panjang bahkan berliku. Sampai pada hasilnya, kemungkinan apa saja bisa terjadi, sesuai atau tidaknya dengan usaha kita selama ini.

Kesadaran itulah yang tentunya akan kemudian menjadikan diri kita lebih bersiap nerimo dalam menjalani rintangan dan apapun hasilnya. Karena memang akhirnya, hemat saya, hakikat nilai terbaik dari filosofi menanam itu harus dimulai dengan kesadaran memberi tanpa pamrih.

Menanam Sebagai Jati Diri

Bahwa menanam adalah menanam terlepas nantinya ia bisa berhasil dipanen atau tidak demikianlah lakon sebagai seorang petani. Marzuki Mohammad, seorang musisi hip-hop asal Yogyakarta menguatkan akan hal itu. Lelaki bernama panggung Kill The DJ itu memiliki perhatian lebih yang tak biasa terhadap dunia pertanian di Indonesia.

Setelah berhasil mendirikan Jogja HipHop Foundation dan mengantarkannya sukses tampil nge-rap di Washington DC, Amerika Serikat, kini mas Zuki mendirikan kelompok usaha pertanian dengan nama UD Anarkisari di Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Melalui lembaga pemberdayaan masyarakat itu mas Zuki memasarkan sejumlah produk dari para petani di desanya dengan sentuhan desain promosi dan kemampuan digital marketing yang dimilikinya. Tidak hanya beras, UD Anarkisari juga menjual merchandise seperti kaos. Menjadi menarik karena kaos yang ditawarkan terlihat sederhana tapi sinyal yang disampaikan disana kuat sekali.

PETANI SELALU MENANAM MESKIPUN GAGAL PANEN

Marzuki Mohammad – UD Anarkisari

Seutas kalimat yang maknanya mendalam akan semangat, optimisme, ketangguhan dan prinsip hidup sebagai petani yang berhasil dirangkum oleh mas Zuki, rapper Indonesia yang pernah manggung hip-hop dengan berkemeja batik di Amerika Serikat dan Eropa itu.

Dengan demikian kesadaran menanam kita dalam menjalani hidup tidak melulu mengarah kepada panen-gagal atau berhitung untung-rugi. Karena ternyata menjadi antitesis tersendiri bahwa tidak selamanya bahwa siapapun yang menanam maka ia yang akan menuai. Bisa saja, kita yang menanam bisa jadi orang lain yang menuai, atau sebaliknya.

Patutkah disesalkan? Tak ada, sama sekali. Karena menanam bagi seorang petani adalah wajah sekaligus jati diri. Ada harga identitas, prinsip sekaligus nyawa selama hidup di jalan itu.

Dualisme Warisan Bertanam

Cerita tentang petani tua dan warisan akan ajaran tentang kesadaran menanam sebetulnya bukan hal baru pada masa sekarang, melainkan sejak zaman purbakala juga sudah ada. Hanya saja ajaran tentang cara pandang menanam dan apa yang seharusnya ditanam mengalami perubahan drastis sekaligus miris.

Bukan mewariskan tanaman dan perkebunan alam hijau melainkan investasi lahan untuk menanam beton properti, taman wisata hingga pemukiman warga. Bukan juga mewariskan pepohonan kayu dan hutan dengan segala ragam ekosistem flora dan fauna melainkan tergantikan dengan lahan perkebunan sawit puluhan ribu hektar. Kenapa bisa demikian? Ajaran menanam tentu bisa mengalami pergeseran makna berangkat dari aspek ekonomi, sosial dan budaya.

Bagi suku pedalaman Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Ngahuma yang berarti berladang atau bercocok tanam merupakan pekerjaan utama. Ajaran cara menggarap ladangpun wajib menerapkan berbagai pantangan, seperti pantang menggunakan benih padi modern, pupuk sintesis anorganik dan pestisida pabrikan. Tak mengherankan jika ajaran Ngahuma bagi masyarakat Baduy Banten dianggap sebagai kewajiban dalam agama mereka, Sunda Wiwitan.

Bagi manusia modern sekarang lebih banyak menganut pandangan Adam Smith dengan Kapitalismenya dimana setiap orang (swasta) diberikakan kebebasan penuh untuk mengendalikan kegiatan ekonomi seperti perdagangan, industri, dan alat-alat produksi dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Bagi Adam Smith, sistem ekonomi kapitalisme bergerak sesuai konsep MCM atau Modal-Comodity-Money, yang akan jadi siklus non stop karena uang berubah jadi modal lagi dan bisa berputar lagi apabila diinvestasikan. Jelas ujung dari semua ini adalah keuntungan sebanyak-banyaknya.

Bagaimana dengan posisi pemerintah terhadap sistem ini? Bagi Adam Smith pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dari semua pekerjaan yang dilakukan masyarakat. Karena prinsip kapitalisme dalam memandang pasar berlandaskan laissez-faire atau kebebasan dari intervensi pemerintah.

Jadi siapa saja bisa menanam ajaran dan mewariskan hasil panennya. Namun yang luput dari kita bahwa alam juga tetap bisa memberikan timbal balik warisan. Merampas kekayaan alam dengan dalih hak milik golongan tanpa memperhatikan nasib keberlangsunan hidup makhluk lainnya, kelak alam mewariskan keberlimpahannya dengan cara lain. Tak lain adalah musibah dan petaka yang ia datangkan. Namun sialnya memang itu berdampak menyeluruh bagi seluruh umat manusia di bumi, bagian manapun.

Kesadaran Lain Bertanam

Saya tak ingin menyebut musibah bencana alam mana saja, karena kita sudah demikian banyak dibanjiri informasi dari berbagai jenis media seputar ini. Sebuah suguhan yang lebih sering menyajikan sebab-akibat dengan porsi pemandangan akibat lebih banyak mendominasi.

Padahal ada bagian dimana seorang ulama ternama asal Andalusia, Abu al-Walid al-Baji (1012-1081M) seakan hadir ditengah kita dan berkumandang syair seperti ini,

اِذَا كُنْتُ اَعْلَمُ عِلْمًا يَقِيْنًا بِاَنَّ جَمِيْعَ حَيَاتِيْ كَسَاعَةٍ، فَلِمَ لَا اَكُوْنُ كَضَيْفٍ بِهَا  وَاجْعَلُهَا فِيْ صَلَاحٍ وَطَاعَةٍ

“Bila aku telah tahu pasti hidupku hanya sesaat saja, mengapa aku tidak seperti tamu dan aku jadikan seluruh hidupku untuk kebaikan dan mengabdi pada kemanusiaan.“

Abu al-Walid al-Baji (1012-1081M)

Ah rasanya saya memang tengah berkhayal bahwa sekelompok orang hanya akan bersyair demikian ketika kelak di alam kubur. Penuh penyesalan dan syarat kedukaan. Namun fenomena musibah alam seperti yang terjadi seperti sekarang rupanya tidak menunggu nanti dalam membalaskan warisan. Sekalipun memang yang menjadi potret memilukan itu ketika sekelompok orang tak bersalah yang malah menjadi korban.

Lantas bagaimana dengan keadaan pemangku kebijakan dan pemilik kepentingan? Tak ada yang tahu, lebih mungkin tidak peduli karena demikian perihnya penderitaan yang dialami ketimbang malah menyalahkan sana-sini. Tapi yang jelas bagi warga terdampak musibah alam, bantuan dengan pembagian sembako dihadapan awak media saja belum cukup. Ada alam yang harus dirawat kembali dengan salah satunya keberanian menghentikan tangan-tangan kotor yang mengambil alih fungsi lingkungan hidup menjadi ladang pundi-pundi kekayaan pribadi.

Pun masih saja terus demikian, AU-AH. Demikian juga terlepas benar atau tidaknya ramalan suku India Amerika berikut, semoga bisa menjadi pengingat untuk kita semua.

“Only when the last tree has died and the last river has been poisoned and the last fish been caught will we realize we cannot eat money.”

Cree Indian Prophecy

Terjemah – “Hanya setelah pohon terakhir ditebang, ikan terakhir ditangkap, dan sungai terakhir diracuni, akankah kita menyadari bahwa ternyata kita tidak bisa makan uang.”

Akhirnya, mari kembali menilik perjalanan hidup kita saat ini. Belajar, bekerja atau mencari nafkah dengan cara halal apa saja merupakan juga bagian dari kegiatan bertanam. Namun yang tak boleh luput dari kesemua itu adalah kepastian bahwa benih yang akan kita semai dan tanam itu harus berdampak baik bagi diri sendiri dan orang lain serta tidak merusak keberlangsungan hidup mahkluk lainnya.

Dengan demikian kita tidak hanya hidup bertanam kebaikan sendiri melainkan menanam dimana saja. Sehingga kelak tidak semata menjadi tanaman melainkan taman-taman dengan berbagai jenis tanaman kebaikan. Karenanya hidup menjadi lestari di dunia, sudah bisa bertanam dan merasakan lebih dulu taman-taman kebaikan surga sekalipun masih singgah di dunia. Mari bertanam ria!

68 Views
The following two tabs change content below.
Ocid Quro
Juru Kompor di AU-AH.COM | Suka asal bepergian dengan sepeda atau baca buku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Balik!