Hujan dan Kepergian yang Dirayakan

Hujan dan Kepergian yang Dirayakan

Hari ini, Kamis 31 Desember tahun 2020 dalam hitungan jam akan berakhir. Keramaian jelang akhir tahun ini tidak di sebarluaskan pada selebaran poster atau  undangan menghadiri konser musik,  atau perayaan malam tahun baru dengan pesta kembang api yang tersebar di media komunikasi berjenis apapun itu.

Dari keramaian yang menjadi tradisi tahunan bagi banyak warga negara di belahan bumi manapun itu, jika boleh saya golongkan ada dua sikap yang umumnya dilakukan. Pertama, menarik diri dari keramaian. Mengetuk time travel pada pikiran tentang peristiwa sepanjang setahun lamanya. Kedua, keramaian tetap dilaksanakan meskipun tidak dengan melakukan kerumunan. Bisa di lingkar keluarga maupun pertemanan dengan lintas komunitas atau kerja.

Sederhana sekali ya kesimpulan saya itu, yang sepertinya memang berangkat dari segi aspek antara introvert dan ekstrovert, atau mungkin ambivert. Entahlah, saya serahkan sepenuhnya pilihan bersikap kepada para pembaca sekalian.

Untuk saya pribadi, saya memilih menarik diri dari keramaian manusia. Bukan soal sebagai tindakan preventif dalam mencegah penyebaran Covid-19. Tapi sejujurnya pikiran saya sudah demikian ramai bahkan lebih hebat kegaduhannya daripada pesta perayaan kembang api tahun baru yang sudah dimulai ketika malam hari dan meledakkan puncaknya pada tengah malam.

Keramaian apakah itu? Saya sendiri demikian sulit untuk mengurai dan menjelaskannya. Tapi dengan menulis dan bertutur monolog seperti ini, kemunculan berbagai informasi, ide, imajinasi dan sebagainya yang berjejalan di kepala saya bisa saya rangkul pelan, mengelusnya dan mengendalikan mereka keluar dengan tertib.

Kata Desember mengantarkan saya pada sebuah judul lagu Desember milik Efek Rumah Kaca. Ya sebuah grup musik bergenre pop folk, sintas dan rock alternatif dengan berlabel rekaman indie. Lirik pada sejumlah lagu yang disuguhkan ERK memang banyak menyentuh keadaan sosial masyarakat Indonesia kita.

Saya pikir Cholil Mahmud dan Adrian Yunan selaku pencipta lagu Desember akan mengajak pendengar bersemangat dan berjingkrak-jingkrak penuh percaya diri menghadapi masa depan lewat pintu bernama tahun baru. Ternyata ERK menyuguhkan alunan musik akustik yang demikian pelan-pelan merasuk ke telinga kita.

Cholil Mahmud selaku vokalis ERK bernyanyi dengan asik dan seperti bercerita. Lewat lagu Desember yang ia buat bersama Adrian Yunan, kata hujan dan bagaimana menyikapinya menurut saya itu mengandung curahan hati romantis yang menyenangkan.

Kenapa Desember? Mungkin Desember dipilih sebagai kata yang mewakili makna akan fase akhir dari sebuah masa. Ada batas ujung disana, yang berada disana membuat kita diam sejenak berpikir bahkan merenung. Dan Desember ERK di baris lirik pertamanya membawakan kita pada kenyataan hidup bahwa selalu ada harapan pun di tengah penderitaan panjang yang tak kunjung usai. Ada yang bersabar dengan terus bernyanyi pun dihadapkan pada kedukaan. Ada pula yang tetap berjuang menyalakan harapan pun ia ditelan ketidakmungkinan.

Sederas apapun hujan di bulan Desember, pun sampai bisa berhasil menenggelamkan ibu kota Indonesia, ERK percaya bahwa akan ada pelangi yang muncul di hari setelahnya, pada hari baru di tahun baru.

Desember ERK memang pelan membisikan kepada kita tapi juga kuat sekali. Dari berbagai peristiwa yang terjadi dan menghadirkan ketidakmungkinan, ERK dengan lagu Desembernya meyakinkan kita bahwa bisa sangat mungkin itu dihadapi dengan terus dijalani demi terwujudnya harapan dan cita-cita. Seperti tentang pemenuhan dan penegakan hak asasi kemanusiaan secara adil dan beradab.

Sampai nanti ketika hujan tak lagi
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka
Seperti pelangi setia
Menunggu hujan reda...

Desember – ERK

Berbicara Desember ERK dengan bertemakan hujan, saya jadi menarik diri sebulan ke belakang. Ya ada November Rain sebagai lagu rock legendaris sepanjang masa yang dibawakan Guns N’ Roses. Bagaimana tidak, video musiknya yang pertama kali tayang pada tanggal 25 Desember 2009 di YouTube dengan nama chanel Guns N’ Roses, perhari ini sudah mencapai 1.513.518.902 kali ditonton.

Yang menarik single lagu yang dirilis Juni 1992 merupakan lagu yang pernah mencetak rekor sebagai lagu terpanjang pada masanya dengan durasi 8 menit 57 detik. Video musiknya pun merupakan video dengan biaya produksi yang termahal pada masanya karena menghabiskan biaya USD1,5 juta! Yang jika kita lihat posisi nilai rupiah pada tanggal 30 Desember 2020 ada di angka 1USD = 14.020,01. Maka 1,5USD x 14.020 = Rp21.030.000.000. Jumlah yang cukup fantastis untuk pembuatan video musik pada masanya. November Rain memang telah menjadi salah satu lagu terpopuler Guns N’ Roses setelah Don’t Cry dan Sweet Child O’Mine.

Lantas apa kaitannya lagu Desember ERK dengan November Rain Guns N’ Roses? Hujan dalam lirik lagu keduanya bertemakan cerita yang berbeda tapi terhubung. Video musik November Rain menjadikan hujan sebagai musibah yang memilukan. Kedatangannya memporakporandakan pesta pernikahan dan berujung pada kematian pasangan perempuan. Soal apa yang menjadi alasan kematiannya, jagat pencinta lagu Guns N’ Roses seluruh dunia masih mempertanyakan dan belum kunjung mendapatkan jawabannya. Tapi itu jika merujuk pada cerita dalam video musiknya, namun jika berdasarkan liriknya, Axl Rose, vokalis Guns N’ Roses mengaku bahwa November Rain merupakan lagu yang menceritakan tentang situasi dimana cinta bertepuk sebelah tangan.

Don't you think that you need somebody
Don't you think that you need someone
Everybody needs somebody
You're not the only one
You're not the only one

November Rain – GnR

Karenanya saya tidak melakukan pembanding terhadap kedua lagu itu, tapi saya izin menyimpulkan dari kedua lagu tersebut untuk mengatakan, “You’re not the only one! You still have rainbow later…”

Sebenarnya pertanyaan di kepala saya kembali muncul. Begini, “Apakah hujan merupakan sebuah musibah yang setelahnya pasti akan mendatangkan anugerah?” Tentu bisa iya tapi bisa juga tidak, bukan?

Tapi sadarkah kita, terlepas bulan November dan Desember merupakan bulan yang masuk dalam pemusim hujan tidak serta merta selalu menimbulkan kedukaan. Ada beberapa orang bahkan komunal menjadikan Desember sebagai bulan kesedihan awalnya tapi rutin setiap tahunnya malah menjadi perayaan. Mari kita lihat dari awal bulan Desember berjalan.

Di minggu kedua tepatnya pada tanggal 17 Desember, di Konya, salah satu kota terbesar di Turki rutin menggelar upacara Seb-i Arus untuk memperingati wafatnya Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī, ulama sufi, penyair, dan cendekiawan terkenal dunia.

Upacara Seb-i Arus memiliki arti ‘malam pengantin’ dalam bahasa Turki. Malam pengantin tersebut dikenal dalam ordo Mevlevi, sebagai malam ketika Jalāl ad-Dīn Rūmī wafat. Karena Jalāl ad-Dīn Rūmī menganggap bahwa kematiannya bukanlah sebagai akhir, melainkan sebagai reuni dengan Tuhan tercinta. Karena itulah peringatan wafatnya Rumi disebut sebagai ‘Malam Pengantin’ juga disebut sebagai ‘Malam Reuni’.

Bagi Rumi kematian bukanlah lenyapnya jasmani, melainkan perjalanan menuju Allah. Ada perjumpaan disana, pertemuan cinta laksana sepasang kekasih berstatus pengantin. Maka kita semakin mengerti ketika Rumi mengungkapkan filosofinya tentang kematian dengan kata-kata ini.

“Semua orang menyebutnya sebagai pergi, namun saya menyebutnya sebagai reuni.”

MAULANA JALALUDIN RUMI

Bukan sekedar perayaan biasa, Seb-i Arus sejak tahun 1973 selalu diselenggarakan setiap tahunnya di Konya, tempat bagi rumah peristirahatan Rumi. Acara Seb-i Arus merupakan perhelatan akbar nasionalnya Turki dengan mendapat dukungan langsung dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Turki, serta Badan Promosi dan Pengembangan Pariwisata Turki.

Jadi setelah Mekkah dan Madinah, Turki dengan Konya dan perayaan Seb-i Arus menjadi objek ziarah kedua dalam doa saya yang aminnya paling keras!

Lain di Turki di Indonesia. Peringatan kematian seseorang yang diadakan setahun sekali dengan tujuan mendoakannya dan mengenang keteladanan semasa hidupnya dikenal dengan istilah Haul yang dalam bahasa Arab berarti satu tahun. Sebetulnya tradisi haul tidak hanya berlaku di kalangan masyarakat Muslim sunni Indonesia saja. Komunitas muslim sunni lainnya seperti yang tersebar di Malaysia dan Singapura, dan negara lainnya juga turut merayakan tradisi itu. Termasuk khususnya Yaman, negara yang diyakini merupakan pertama kali Haul berkembang di kalangan masyarakat muslim di Hadramaut, Yaman.

Di Indonesia sendiri kegiatan haul biasa dilaksanakan dengan mengundang masyarakat datang ke rumah, mushola atau suatu tempat untuk doa bersama melalui pembacaan Yaasin, Tahlil, Khataman Al-Qur’an dan lain-lain. Setelah itu ada bagian sambutan dari pihak keluarga, diteruskan juga oleh tokoh agama yang secara khusus diundang untuk menyampaikan ceramah atau pesan dengan menyisipkan memori tentang kebaikan almarhum.

Diantara sekian banyak tradisi Haul yang diselenggarakan di Indonesia adalah Haul Gus Dur yang kemarin baru saja dilaksanakan. Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid meninggal pada tanggal 30 Desember 2009. Maka Haul Gus Dur pada tahun 2020 ini diselenggarakan untuk yang ke-11 kalinya.

Kegiatan mengenang wafatnya Presiden ke-4 Reublik Indonesia itu pada Haul ke-11 kali ini jelas terasa berbeda. Mengingat situasi pandemi belum mereda maka kegiatan Haul pada tahun ini, pihak keluarga almarhum tidak mengadakan acara di kediaman Gus Dur di Ciganjur, melainkan digelar secara online di tiga kota secara bersamaan seperti di Jakarta, Yogyakarta, dan Jombang.

Terkait alasan kenapa tiga kota itu yang dipilih, Anita Wahid, putri ketiga Gus Dur yang menjadi Ketua Pelaksana haul Gus Dur tahun ini mengungkapkan bahwa Gus Dur lahir di Jombang, menjalani masa kecil di Jakarta, dan menghabiskan masa remajanya di Yogyakarta.

Haul Gus Dur mengangkat tema ‘Persatuan dan Solidaritas untuk 1 Negeri dan 1 Cinta’. Tema ini menggambarkan Indonesia sebagai negara multikultural yang tak jarang dilanda konflik, namun tetap eksis karena persatuan dan solidaritas rakyatnya.

Hal ini juga tak lepas dari kontribusi Gus Dur semasa hidupnya. Meski sudah wafat sebelas tahun lalu, namun semangat persatuan dan solidaritas yang ditularkan oleh Gus Dur semasa hidupnya terus dijaga oleh keluarga, sahabat, pengikut, dan pengagumnya.

Bagi yang belum mengenal sepenuhnya siapa Gus Dur dan kenapa sosoknya demikian banyak dikagumi oleh warga Indonesia lintas etnis, agama bahkan daerah, saya akan coba bantu sedikit memberikan alasannya.

Soal jasa besar Gus Dur untuk Indonesia, saya teringat dan sependapat dengan pak Lukman Hakim Saifudin, mantan Menteri Agama RI era Presedin pak Jokowi periode pertama yang pernah ia ungkapkan pada perayaan Haul Gus Dur ke-6 pada tahun 2015 lalu.

Ada tiga jasa besar Presiden ke-4 Indonesia itu bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertama, Gus Dur mampu mengangkat pesantren sebagai entitas tersendiri. Kedua, jasa Gus Dur adalah dengan mendamaikan hubungan Islam dengan Pancasila. Jasa Gus Dur yang ketiga, adalah keberhasilannya membuka pandangan bahwa kemajemukan adalah sebuah realitas di Indonesia.

Harus diakui memang Gus yang merupakan cucu dari Hadrotussyeikh KH. Hasyim Asy’ari, sang pendiri Nahdlatul Ulama itu selama hidupnya menampilkan pesantren bukan sekadar institusi melainkan sebuah komunitas tersendiri yang memiliki nilai-nilai khas Indonesia. Tak mengherankan kemudian jika insan pesantren baik itu santri, alumni, ustadz maupun Kyai bisa masuk ke ranah manapun, baik budaya, politik, maupun pemerintahan.

Dan ya menurut saya dari tahun 70-an Gus Dur tampil sebagai wajah insan pesantren yang intelektual, humanis dan berkemajuan dalam pemikiran serta pergerakan baik di bidang kemanusiaan maupun perpolitikan.

Gus Dur yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU memang demikian piawai mempertemukan Islam dengan Pancasila tidak dengan jalan kekerasan malah cenderung ramah dan banyak diterima dengan akal.

“Pancasila bukan agama, tidak betentangan dengan agama dan tidak digunakan untuk menggantikan kedudukan agama.”

Gus Dur

Tandas Gus Dur soal pandangan kedudukan agama terhadap Pancasila.

Hal itu sejalan dengan apa yang pernah mendiang kakeknya, Hadrotussyeikh KH. Hasyim Asy’ari katakan,

“Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari dari agama dan kedudukannya saling menguatkan.”

KH. Hasyim Asy’ari

Demikian juga soal jasa Gus Dur akan kemajemukan dalam berbangsa dan bernegara. Meski berangkat dari lingkungan agama yang kuat, Gus Dur sangat terbuka sekaligus memperjuangkan betul akan nilai keberagaman dan pluralitas.

Bukan hal mudah memang untuk bisa tampil dengan pemahaman yang masih demikian menjadi pro dan kontra di masyarakat negara berkembang seperti Indonesia. Gus Dur salah satu ulama yang memiliki pemahaman islam yang inklusif bukan ekslusif. Demikian tampil paling depan mengusung ajaran Islam yang memanusiakan manusia tanpa mempermasalahkan perbedaan SARA.

Secara pribadi saya suka sekali dengan pernyataan Gus Dur yang begini,

“Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu.”

Gus Dur

Yang harus dipahami bahwa pernyataan ini sama sekali tidak mengandung konteks bahwa keberadaan agama dan kesukuan bukan menjadi tidak penting. Justru para pemuka termasuk orang yang meyakini keimanan dan bagaimana menjalani ajarannya, apakah bisa sejalan atau tidak dengan jalan kebaikan itu yang patut dipertanyakan.

Membicarakan Gus Dur tentu juga mengantarkan kita pada kata toleransi. Perdebatan tentang hukum boleh atau haramnya mengucapkan selamat hari Natal kepada saudara sebangsa tanah air yang beragama kristiani masih dan tidak akan pernah selesai sepertinya. Namun Desember kali ini, sejauh pantauan saya di media sosial apa saja kegaduhan akhir tahun yang menahun itu terasa berbeda, tak seberisik sebelum-sebelumnya.

Tapi ya sudahlah, seperti yang saya lakukan. Diutarakan atau tidak selagi tidak mengganggu dengan ucapan maupun perbuatan menentang bahkan menyalahkan itu sudah mewakili sikap bertoleransi. Toh sejauh ini saya menerima keberadaan golongan minoritas apapun di kehidupan saya, baik lingkungan maupun pemikiran.

Menurut saya soal keresahan terhadap perbedaan yang dirasa bertentangan dengan keyakinan, itu karena perbedaan dan keberadaan posisi saja dimana kita tinggal. Kita di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam belum sepenuhnya semua menerima golongan minoritas, sebaliknya sejumlah negara dengan penduduk berkeyakinan Nasrani sebagai mayoritas dan Islam sebagai salah satu golongan minoritas juga akan mengalami hal yang sama.

AU-AH demikian nama media ini saya berikan, tentu bukan sebagai wujud dari sikap apatis dan pertentangan lainnya. Hanya AU-AH saja terhadap segala keributan yang sudah kita tahu dan pahami muasal dan sejauh mana ada atau tidak kebermanfaatannya untuk kita.

Jadi jelaslah sudah Desember adalah bulan terakhir dalam penanggalan kalender Masehi. Pun dikatakan bukan tahun Islam, tapi segala sendi kehidupan kita bernegara di Indonesia dan hampir di seluruh dunia menggunakan waktu berdasarkan kalender Masehi yang diwariskan bangsa Romawi Kuno.

Saya, kamu, kita atau mereka apakah mengakhiri tahun 2020 dengan cuitan mengeluh akan wabah pandemi ini yang melanda dan tak jelas kapan berakhirnya, atau kembali melanjutkan segala yang tertunda, bahkan mengawali segala apa yang belum kita ciptakan. Desember dengan metafora hujannya, dengan juga sejumlah kepergian tokoh dunia di bidang kemanusiaan, dengan umat beragama yang menjunjung tinggi pesan perdamaian di setiap perayaannya sudah kita kemas dengan pemahaman bahwa kemajemukan memang bisa mengantarkan kita menuju rahmat untuk bumi dan semesta alam raya.

42 Views
The following two tabs change content below.
Ocid Quro
Juru Kompor di AU-AH.COM | Suka asal bepergian dengan sepeda atau baca buku.

One thought on “Hujan dan Kepergian yang Dirayakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Balik!