Kyai Bersahaja dari Bantar Gebang Bekasi

Kyai Bersahaja dari Bantar Gebang Bekasi

Terlahir di Bekasi dari pasangan H. Thabrani dan Hj. Masturoh, seorang bayi laki-laki diberikan nama Ahmad Nasir.

Pada tanggal 18 Agustus 1955 M atau bertepatan dengan 7 Dzulhijjah 1374 H Ahmad Nasir merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara, yaitu KH. Ahmad Nasir, Ust. H. Syarifudin, Ust. H. Ismatullah, Hj. Siti Maryam, Lilis Nur Hasanah, Ust. H. Yusup Sopiani (Alm), Neneng Nuraeni, Ust. Acep Abduurahman, S.Ag., Ust. Abdurrahim, S.Pd.

KH. Nasir menjalani hidup bersama kedelapan adik-adiknya dalam lingkungan keluarga yang bersahaja namun religius dan terdidik. H. Thabrani, ayahnya KH. Nasir merupakan seorang petani sekaligus pedagang di pasar Bantar Gebang. Meski begitu H. Thabrani memiliki perhatian besar terhadap pendidikan bagi putra-putrinya. Kesembilan anaknya wajib ia sekolahkan dan juga titipkan ke pesantren untuk mendapatkan pengajaran ilmu pengetahuan dan keislaman yang matang.

Berkat perhatian besar dan ketekunan H. Thabrani menafkahi kesembilan putra-putrinya itu dengan bertani dan berdagang, syukur Alhamdulillah membuahkan hasil.  Dari keenam anak laki-laki dan ketiga anak perempuan itu mereka tumbuh dewasa yang kemudian beberapa orang menjadi pedagang sukses, guru mengaji, pengajar di sekolah, dan sampai memimpin majelis ta’lim.

KH. Nasir sendiri selaku putra pertama H. Thabrani terbilang yang paling menjadi kebanggaan keluarga. Pasalnya KH. Nasir termasuk anak yang berhasil memenuhi keinginan dan pesan ayahnya untuk mengamalkan ilmu yang selama ini ia dapat dari pesantren. Karenanya tidak hanya menjadi pedagang warung kebutuhan pokok (sembako) dan guru agama di sekolah, KH. Nasir juga mendirikan majelis ta’lim kaum bapak dan ibu sampai kemudian berhasil mendirikan pesantren salafiyah dengan nama Al-Barkah.

Jalan Pendidikan

KH. Nasir memulai pendidikan di SDN Bantar Gebang I pada tahun 1969. Tak hanya itu ia juga mengaji kepada KH. Muhamad Yusuf, pendiri Masjid Jami Al-Ikhlas Bantar Gebang dan KH. Muhamad Bakir, tokoh ulama Bantar Gebang. Bertempat di mushola Assa’adah yang berlokasi di Pangkalan Dua Bantar Gebang, Bekasi, KH. Nasir kecil menimba ilmu agama sehari-hari kepada KH. Muhamad Bakir saban Maghrib sampai dengan Isya.

Masa kecil KH. Nasir tidak hanya mengisi waktunya dengan mengaji pada KH. Muhamad Yusuf dan KH. Muhamad Bakir. Setiap libur semester sekolah dasar kelas akhir, KH. Nasir kecil pergi menimba ilmu ke Ujung Harapan, Bekasi Utara. Disana ia nyantri pasaran atau mengaji sejumlah kitab kuning secara langsung dan singkat kepada KH. Noer Ali, pendiri pesantren At-Taqwa yang tak lain merupakan tokoh pahlawan Nasional asal Bekasi.

Selepas menempuh pendidikan dasar dan mengaji, atas dasar saran dari KH. Mas’ud yang merupakan tokoh ulama Bantar Gebang, KH. Nasir remaja diarahkan untuk melanjutkan jenjang pendidikan menengah pertama dengan sekolah dan pesantren di daerah Sukabumi.

KH. Mas’ud adalah sosok ulama yang cukup terpandang di Bantar Gebang karena perannya sebagai pengurus DKM masjid Al-Ikhlas yang sudah ada sejak tahun 1881. Sampai saat ini masjid tersebut masih berdiri di pinggir jalan raya Narogong pangkalan 1B, Bantar Gebang, Bekasi Timur. Terlebih KH. Mas’ud juga merupakan paman dari KH. Nasir. Karena masih kedudukan keluarga itulah KH. Nasir remaja semakin mantap menimba ilmu sekalipun harus meninggalkan kampung halaman.

Pada tahun 1974 KH. Nasir remaja berangkat diantar keluarganya ke Sadamukti, Cicurug, Sukabumi – Jawa Barat.  Tiga tahun bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tarbiyatul Falah Al-Islamiyah Al-Afandyiyah, KH. Nasir remaja juga melanjutkan sekolah di tingkat Madrasah Aliyahnya (MA). Selama dan setelah menempuh dua jenjang pendidikan formal itu KH. Nasir remaja juga menimba ilmu di pesantren Sunanul Huda Cikaroya dibawah asuhan Abuya KH. Dadun Sanusi, putra dari Mama Uci Sanusi selaku pendiri pesantren tersebut. Selama disana syukur Alhamdulillah KH. Nasir remaja pernah sempat belajar langsung kepada Mama Uci Sanusi, sekalipun sebentar karena tak lama beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Setelah dinyatakan lulus sekolah MA, KH. Nasir remaja tumbuh menjadi pemuda yang demikian haus akan ilmu pengetahuan agama. Karena dahaganya itulah KH. Nasir muda memutuskan untuk tidak langsung pulang ke Bekasi melainkan tetap nyantri di Sukabumi melanjutkan ngajike sejumlah Kyai ternama.

KH. Nasir muda juga menyempatkan diri nyantri ke Mama Sempur, seorang tokoh ulama kharismatik di daerah Sempur, Kecamatan Plered, Purwakarta, Jawa Barat. Tidak hanya keilmuan agama, keterampilan bertilawah Al-Qur’an juga tidak luput dari perhatian KH. Nasir muda. Karenanya untuk dapat menguasai keterampilan itu ia sampai menimba ilmu tilawah di Pesantren Qur’an yang berlokasi di Banten.

Semangat dan Keterampilan

Lewat obrolan ringan bersama putra ketiga KH. Nasir, Nasrullah Jamalludin, semasa menimba ilmu di pesantren Sunanul Huda Cikaroya Sukabumi, ayahnya, KH. Nasir sering bercerita bahwa ia punya kedekatan dengan Abuya KH. Dadun Sanusi yang tak lain merupakan pengasuh pesantrennya itu.

Tak jarang lewat kedekatan itu KH. Nasir muda sering diminta menemani gurunya tersebut berdakwah kemanapun, tanpa tahu alasan juga kenapa dirinya yang diajak bukan santri yang lain. Sampai pernah suatu waktu, ketika Abuya KH. Dadun Sanusi menghadiri undangan ceramah di suatu tempat di Sukabumi, KH. Nanang Qosim yang diundang waktu itu sebagai Qori Terbaik MTQ Nasional era tahun 1970-an mendadak berhalangan hadir. Panitia acara tentu kebingungan namun dengan tanpa kompromi Abuya seketika menunjuk santrinya sendiri, KH. Nasir muda yang waktu itu ikut hadir diminta langsung menggantikan.

Tentu KH. Nasir muda terkaget dan tidak percaya. Tapi Abuya KH. Dadun Sanusi tidak asal atau sembarangan menunjuknya, pikir KH. Nasir. Amanah menggantikan Qori kondang nasional secara dadakan itu akhirnya dimanfaatkan betul oleh KH. Nasir muda. Meski kualitas bacaannya tidak setingkat KH. Nanang Qosim, namun KH. Nasir muda bisa tampil tak kalah memukau.

Yang menggelikan, para jamaah yang hadir dan menikmati lantunan ayat suci al-Qur’an itu tidak mengenal betul bagaimana wajah KH. Nanang Qosim. Yang mereka tahu bahwa Qori kondang Nasional itu merdu suaranya dan sangat piawai bertilawah. Sehingga yang tampil memukau itu mereka kira Qori Internasional asal Indonesia melainka KH. Nasir muda, seorang santri yang menjadi badal atau pengganti KH. Nanang Qosim.

Pilihan Abuya mengajak KH. Nasir muda sebagai santrinya dalam menemani beliau berdakwah kemana-mana membuat ia tidak menyesal sama sekali melainkan senang dan bangga. Karena syukur Alhamdulillah KH. Nasir muda memang bisa diandalkan karena berhasil mengemban amanah itu dengan maksimal.

Harus diakui KH. Nasir muda memang bukan hanya berbakat dalam dunia tarik suara tilawah namun dalam penguasaan sejumlah kitab kuning dengan beberapa cabang ilmu juga patut diperhitungkan. Dari semenjak masih nyantri di Sukabumi KH. Nasir muda juga sudah mulai diamanahkan pesantren menghadiri sejumlah undangan dari majelis-majelis ta’lim yang ada di wilayah Sukabumi. Pencapaian itu tidak hanya ia raih di medan dakwah yang bersentuhan tatap muka langsung dengan jamaah,  KH. Nasir muda juga berhasil berdakwah secara on-air di sebuah stasiun radio yang ada di Cicurug Sukabumi.

Tak banyak yang tahu kalau ternyata keberhasilan KH. Nasir muda dalam menimba ilmu dan perannya di dunia pendidikan Islam karena memang memiliki latarbelakang silsilah keshalehan dari keluarga ayahnya. KH. Nasir merupakan generasi ketiga dari KH. Muhamad Yusuf yang merupakan seorang ulama besar termasyhur di Bantar Gebang sekitar tahun 1880.

Peran Bermasyarakat

Sepak terjang keberhasilan KH. Nasir muda selama menimba ilmu di pesantren sudah banyak diketahui oleh masyarakat Pangkalan 1B Bantar Gebang, Bekasi. Masyarakat tahu bahwa KH. Nasir muda telah nyantri dan berdakwah dimana-mana sehingga ia sudah dianggap telah memiliki keilmuan agama yang mumpuni.

Akhirnya pada tahun 1980 atas dasar permintaan ayahnya H. Thabrani, KH. Nasir muda memutuskan pulang ke Bekasi untuk berdakwah di kampung halamannya sendiri. Tak membutuhkan waktu lama, satu tahun kemudian berselang masyarakat sekitar akhirnya bersepakat meminta KH. Nasir membuka pengajian atau majelis ta’lim bagi kaum bapak dan ibu. Berbekal keaktifan memimpin majelis ta’lim dan respon baik masyarakat terhadap cara penyampaian KH. Nasir muda yang sederhana, mendalam tapi juga mudah dipahami, undangan ceramah pun mulai bermunculan. Mulai di tingkat keluarga, RT, RW, kelurahan, kecamatan bahkan luar kota dan daerah, permohonan untuk KH. Nasir muda menjadi penceramah selalu saja ada.

Kepercayaan masyarakat terhadap keilmuan dan peran kemanfaatan KH. Nasir semakin terlihat. Hal itu bersambut dengan permintaan ayahnya H. Thabrani untuk mendirikan pesantren salafiyah dengan tujuan agar putranya bisa mengamalkan ilmu agama bagi masyarakat yang lebih luas. Dengan pemilihan nama Al-Barkah, maksud dan tujuannya tak lain sebagai doa dan harapan untuk para santrinya kelak bisa senantiasa meraih keberkahan dalam beribadah, menuntut ilmu agama dan mengamalkan ilmu baik selama di pesantren maupun ketika kembali di masyarakat. Syukur Alhamdulillah pada tahun 1985 pondok pesantren Al-Barkah pun secara resmi didirikan.

Yang demikian membuat masyarakat sekitar menaruh takzim kepada KH. Nasir tak lain adalah akhlakul karimah yang ia miliki. Ketawadhuan, keramah-tamahan serta sikap mengutamakan kepentingan urusan orang lain terlebih dahulu menjadi sikap yang melekat dalam diri KH. Nasir.

Seperti pada suatu waktu, KH. Nasir menerima dua undangan berceramah sekaligus pada waktu bersamaan. Undangan pertama datang dari luar daerah, tentu dengan jumlah insentif berceramah yang cukup menggiurkan. Sedangkan undangan kedua datang dari sebuah keluarga yang merupakan warga satu RW, memintanya memimpin acara tahlil di rumah shohibul hajat yang terbilang amat sederhana. Keluarga di rumah tak menyangka kalau ternyata KH. Nasir lebih mengutamakan undangan kedua. Hal itu dilakukan sebagai sikap memuliakan tetangga dan menafikan insentif undangan berceramah, berapapun besar nominalnya.

Guru Hebat Bersahaja

Kehidupan KH. Nasir memang tidak pernah lepas dengan dunia pendidikan Islam. Selain memimpin majelis ta’lim, KH. Nasir juga merupakan seorang guru di SMP Islam Nurul Huda Bantar Gebang dari tahun 1983-1985.  Tidak selesai sampai disitu, KH. Nasir melanjutkan dunia mengajar di Madrasah Tsanawiyah Al-Muhtadin yang baru dibangun pada tahun 1985. H. Ghofur sebagai pendiri MTs Al-Muhtadin yang dengan sengaja meminta KH. Nasir ikut serta membantunya merintis sekolah Islam yang saat ini berada tepat di seberang masjid Al-Ikhlas pangkalan 1B Bantar Gebang.

Keseriusan, kegigihan dan keuletan KH. Nasir dalam dunia pengajaran bukan isapan jempol belaka. Masa khidmahnya mengajar di MTs Al-Muhtadin itu berlangsung dari tahun 1985 sampai dengan tahun 2016. Selama itu juga ia tak lebih hanya menjadi seorang guru beberapa mata pelajaran Islam seperti Akidah Akhlak, Fiqih, dan Bahasa Arab. Pun pernah diangkat menjadi Wakil Kepala Sekolah MTs Al-Muhtadin sayangnya itu tidak berlangsung lama. Pasalnya KH. Nasir ingin lebih memaksimalkan perannya sebagai guru dan tokoh di masyarakat.

Ya selama 39 tahun itu para rekan guru dan siswanya mengenal sosok KH. Nasir adalah seorang guru di sekolah, penceramah atau mubaligh di berbagai daerah juga di masyarakat sebagai seorang Kyai Pengasuh pesantren salafiyah bernama Al-Barkah yang dibangun di rumahnya di wilayah pangkalan 1B, Bantar Gebang, Bekasi Timur.

Sifat kewaraan dan ketawadhuan selama hidupnya sebagai guru di sekolah sekaligus ulama di masyarakat amat sangat dikagumi oleh siapapun yang mengenal KH. Nasir. Bagaimana tidak, dari peran kebesaran semuanya itu KH. Nasir juga merupakan pedagang toko sembako atau kebutuhan pokok di rumahnya. Saban siang, sore dan malam setelah memimpin shalat berjamaah dan mengisi pengajian kitab di pesantren ia menunggu toko dan melayani siapapun pembelinya, pun itu santrinya sendiri.

KH. Nasir amat jarang meminta santrinya menjaga toko, pun pernah dilakukan itu hanya karena ada kepentingan mendesak, seperti ketika KH. Nasir mendadak kedatangan tamu pesantren. Berkat kepiawaiannya menempatkan diri itulah KH. Nasir selalu mendapatkan decak kekaguman di mata keluarga, rekan sesama guru, para murid, masyarakat sekitar dan siapapun yang mengenalnya.

Demikianlah Allah dengan segala sifat Kemaha Bijaksanaan-Nya berkehendak. KH. Nasir yang demikian tawadhu dengan segala peran kebermanfaatannya untuk umat, Allah mentakdirkan hambanya yang sholeh itu terpilih sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Bantar Gebang pada tahun 2016. Bukan karena berangkat dari hasrat kekuasaan pribadi, namun berkat keluasan ilmu dan akhlakul karimah KH. Nasir lah para ulama se-kecamatan Bantar Gebang mendukungnya untuk mengemban amanah besar itu.

Keluarga Penerus Dakwah

KH. Nasir memutuskan menikah dengan seorang gadis yang awalnya merupakan muridnya semasa mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Muhtadin. Bernama Mariam Umroh Bukhori, KH. Nasir mempersuntingnya pada tanggal 13 November 1978. Dari pernikahan itu lahirlah enam orang anak yaitu Hj. Euis Fatimah, Mupidah Hasanah (Alm), Siti Robiatul Badriah, Nasrulloh Jamaludin, Asep Rahmatulloh dan Millatun Nafisah.

Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya adalah pribahasa yang kiranya bisa dikaitkan dengan keluarga KH. Nasir ini. KH. Nasir terbilang sebagai figur seorang kepala keluarga yang tegas dan berdisiplin. Salah satu diantaranya soal dunia Pendidikan, kelima putra-putrinya wajib bersekolah dan masuk pesantren. Hasil dari keputusan itu pula yang kemudian menampakkan buahnya. Perjuangan KH. Nasir dalam mengemban tugas dakwah di masyarakat lewat pengajian, majelis ta’lim, dan mengajar sebagai guru pelajaran agama di sekolah juga kemudian diteruskan oleh putra-putrinya.

Tapi memang bukan KH. Nasir kalau bukan gigih dan tekun terhadap apa yang menjadi keinginannya. Ternyata keputusan pengunduran diri mengajar di MTs Al-Muhtadin pada tahun 2016 memang tidak membuatnya selesai dalam pengabdian terhadap dunia Pendidikan Islam. Alih-alih pensiun KH. Nasir malah mendirikan Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Barkah pada tahun 2007 dengan merelokasi bangunan pesantren salafiyah sebelumnya. Karena itu beberapa putra-putrinya yang mengajar di sekolah lain ia minta berhenti dan menugaskan mereka untuk mengurus Yayasan Pendidikan Islam milik keluarga sendiri dengan sambil mengajar didalamnya.

Sakit dan Akhir Hayat

Selama hidupnya KH. Nasir dikenal oleh keluarganya sebagai seorang ayah yang tak pernah mengalami sakit serius. Berdasarkan riwayat penyakit yang diderita selama ini almarhum KH. Nasir hanya mengalami sakit darah tinggi. Tapi rupanya Allah berkehendak lain. Sekitar awal bulan Juni 2020 KH. Nasir jatuh sakit. Awalnya sakit darah tinggi KH. Nasir kambuh, kemudian menjalar ke sakit asam urat. Belum sampai sembuh penyakit itu, KH. Nasir mengalami sakit yang disebut saraf kejepit.

Sejumlah penanganan pun dilakukan, baik medis maupun non medis. Mulai dari tanggal 21 Juni 2020, KH. Nasir dilarikan ke rumah sakit swasta di Bekasi. KH. Nasir juga sempat dibawa ke sejumlah pengobatan alternatif seperti terapi totok darah di daerah Pondok Gede sampai ke ahli syaraf di Cimande.

Hampir satu tahun KH. Nasir didera penyakit syaraf kejepit dan selama itu ikhtiar dalam bentuk pengobatan, menjenguk, donasi serta doa yang tak putus dilakukan oleh pihak keluarga, para tokoh agama masyarakat setempat, termasuk para santri alumni pesantren Al-Barkah yang tergabung dengan nama FORSAPPA (Forum Silaturahmi Alumni Pon-Pes Al-Barkah). Sejumlah murid yang pernah ia ajar di sekolah, termasuk para jamaah majelis ta’lim Al-Barkah dari kalangan kaum ibu dan bapak tak kalah ikut serta.

Tepat pada hari Jum’at, 18 September 2020 KH. Ahmad Nasir Thabrani menghembuskan nafas terakhirnya jam 17:50 WIB genap pada usia 64 tahun. Seketika keluarga besar H. Thabrani, para tokoh agama dan masyarakat Pangkalan 1B Bantar Gebang juga Bojong Kulur yang mengenalnya, terlebih para santrinya FORSAPPA juga jamaah majelis ta’lim Al-Barkah baik dari kalangan kaum ibu maupun bapak berduka cita.

Bagaimana tidak, jasa almarhum KH. Nasir dalam mensyiarkan ajaran agama Islam di daerah Bekasi cukup berpengaruh luas. Tidak hanya di Bantar Gebang, sejumlah daerah seperti Cikarang dan Cibarusah termasuk Cileungsi dan Bojong Kulur yang termasuk daerah kabupaten Bogor sekalipun, almarhum KH. Nasir telah melahirkan sejumlah guru agama, baik yang bergerak di lembaga Pendidikan formal maupun guru ngaji di mushola, pimpinan majelis ta’lim, pembaca maulid Nabi bahkan qori hingga penceramah kondang.

Tak mengherankan memang ketika prosesi jelang KH. Nasir dikebumikan, lingkungan YPI (Yayasan Pendidikan Islam) Al-Barkah yang bersebelahan dengan kediaman almarhum ramai dipadati masyarakat, tokoh agama dan para santri juga muridnya dari berbagai daerah. Sekalipun sedang di masa pandemik Covid-19, para tamu tetap bersikeras hadir dan mengikuti prosesi shalat janazah berjamaah yang dilaksanakan di mushola sekaligus aula majelis ta’lim Al-Barkah. Adapun tempat peristirahatan KH. Nasir dikebumikan di belakang Gedung YPI Al-Barkah yang merupakan tempat pemakaman keluarga besar H. Thabrani dan istrinya.

Para santri alumni pesantren Al-Barkah yang disebut FORSAPPA sedari awal mendengar kabar kepulangan Kyai tercinta segera berkumpul dan membentuk kepanitian untuk membantu keluarga almarhum KH. Nasir, baik soal penyelenggaraan penerimaan tamu, pengajian Yasin dan Tahlil tujuh harian, 40 harian dan 100 harian termasuk pengajian Al-Qur’an langsung di makam almarhum secara bergantian. Para alumni juga yang membantu pihak Shoohibul Musibah memastikan selama acara dilaksanakan tidak lupa melakukan kegiatan protokol kesehatan berupa tersedianya alat pencuci tangan, baik air dan sabun termasuk hand sanitizer.

Nasrullah Jamalludin, putra keempat KH. Nasir mengungkapkan bagaimana dulu almarhum Apa (ayah) semasa hidupnya pernah dan sering memberikan nasehat tentang kehidupan kepada putra-putrinya. Bahwa,

Hidup itu harus memandang ke bawah dan jangan selalu melihat ke atas.

KH. Ahmad Nasir Thabrani

Nasrul menambahkan bahwa ayahnya, KH. Ahmad Nasir Thabrani menanamkan kesadaran kepada putra-putrinya untuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun.

Yang kemudian disadari oleh segenap anggota keluarga besar KH. Nasir adalah bahwa warisan yang ditinggalkan mendiang sang ayah bukan semata harta melainkan juga semangat berdakwah baik lakon semasa hidupnya maupun lembaga Yayasan Pendidikan Islam SDIT Al-Barkah.

Yang jauh sebelum almarhum KH. Nasir sakit, ia tidak ingin mengakhiri hidupnya tanpa mewariskan kebun kebaikan. Nantinya putra-putri almarhum KH. Nasir yang menanam kebaikan dan merawatnya, kelak tentunya itu akan berbuah kebaikan dan tumbuh berkembang menjadi amal jariyah yang terus mengalir untuk dirinya dan keluarga dari satu generasi ke generasi lainnya.

KH. Ahmad Nasir Thabrani merupakan satu dari sekian banyak orang Islam yang baik lagi sholeh, menjadi guru, ustadz, Kyai dan ulama yang tergolong aalim, hanif, tawadhu, serta peran kebermanfaatannya besar baik bagi keluarga maupun masyarakat luas.

Atas inspirasi hidupnya berikut, semoga menjadi amal jariyah juga untuk beliau di alam kubur. Amin Yaa Allah Yaa Mujiibassaailiin.


Catatan:

*Tulisan ini dibuat untuk memperingati 100 hari wafatnya KH. Nasir, yang tak lain merupakan Kyai penulis semasa menimba ilmu di tingkat MTs atau SMP sewaktu di Bekasi. Segala informasi penulis dapatkan dengan wawancara eksklusif bersama keluarga almarhum yang diwakili putra keempatnya, Nasrullah Jamaludin.

119 Views
The following two tabs change content below.
Ocid Quro
Juru Kompor di AU-AH.COM | Suka asal bepergian dengan sepeda atau baca buku.

One thought on “Kyai Bersahaja dari Bantar Gebang Bekasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Balik!